Cerpen 2 (Surat Terakhir untuk Bunda)
Surat Terakhir untuk Bunda
Oleh : Desiva Melanie I. (IX-J)
Melangkah setapak demi setapak bersamaan, sambil menikmati suguhan pemandangan pagi yang menyegarkan mata. Burung-burung menari diatas langit biru. Pohon-pohon meliuk-liuk kesana kemari mengikuti pola irama angin. Bersenandung ria dan menyapa orang sekitar.
Aku pergi kesebuah tempat, dimana tempat itu sering sekali aku kunjungi. Bangunan kecil diatas pohon yang terbuat dari kayu, tempat tujuan yang sekarang sudah didepan mataku. Aku tersenyum tipis, ini adalah rumah pohon yang aku buat beberapa tahun lalu bersama temanku, Delissa.
Perkenalkan, namaku Kaluna. Nenek menyebutku istimewa, karena aku berbeda dengan yang lainnya. Sejak usia ku menginjak empat tahun, aku hanya tinggal bersama nenek dan adikku. Namanya Benn, ia berusia 12 tahun. Dia adik sepupuku satu-satunya. Orang tuanya meninggal tiga tahun lalu karena kecelakaan. Sedangkan orang tuaku? Entahlah. Mereka masih hidup, tetapi aku tidak pernah tahu kabar mereka lagi. Terakhir yang aku tahu, ayah dan bunda bercerai. Lalu bunda pergi ke Jakarta untuk merantau.
Aku melihat temanku, Delissa dari kejauhan. Ia tampak menenteng suatu tas, sepertinya berisi buku-buku. Aku melambaikan tangan kearahnya, sebagai tanda sapaan. Delissa tersenyum manis sampai-sampai matanya hilang, haha.
Tangannya bergerak di udara seolah bilang, “Ayo naik keatas!” Aku pun mengangguk paham. Lalu aku beranjak pergi dari tempatku berdiri.
Dengan hati-hati aku menaiki tangga untuk sampai di rumah pohon, disusul dengan Delissa. Kami kesini setiap Minggu pagi. Bisa dibilang, Delissa adalah tutor pribadi ku. Aku putus sekolah karena kendala biaya. Suatu hari Delissa menawariku untuk belajar bersama. Dan itu masih terjadi sampai sekarang ini.
“Kali ini akan belajar apa?” Aku bertanya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ya, aku terlahir bisu.
Delissa mengambil buku-buku yang ada di dalam tas, lalu menunjukkannya. Aku mengangguk, mengerti. Mulailah aku membaca setiap lembar dari buku itu. Delissa memberikanku soal seputar materi itu, dan ia senang karena aku mengerjakannya dengan sangat baik.
Setelah dirasa selesai, kami menikmati camilan yang kami bawa dari rumah masing-masing. Sambil menikmati suguhan pemandangan senja yang amat sangat cantik membelai mata. Saat senja perlahan hilang, kami memutuskan untuk pulang.
Aku sampai dirumah tepat saat langit sudah gelap. Aku membersihkan diri, lalu mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Decitan suara pintu berhasil membuatku mengalihkan pandangan kearah suara. Muncullah Benn dari balik pintu. Rupanya ia selesai bermain sepak bola dengan teman-temannya.
Sama seperti yang dilakukan Delissa tadi, Benn mengarahkan tangannya di udara, memberi isyarat.
“Kak, aku lapar tolong siapkan makanan. Sebelum itu aku akan mandi terlebih dahulu.”
Aku tersenyum hangat, lalu mengangkat jempolku tinggi-tinggi. Kakiku berjalan menuju dapur. Mengecek persediaan bahan-bahan untuk dimasak. Kali ini aku akan mebuat capcay kuah untuk makan malam. Nenek menghampiri ku dengan membawa tongkat bantu jalannya. Saat ku menoleh, ia tampak tersenyum kearahku. Saat makanan siap, kami semua makan dengan lahap.
Kini jam menunjukkan pukul 22.00. Benn sudah tertidur pulas termasuk nenek. Aku duduk di teras rumah menikmati semilir angin malam yang berhembus. Tak lupa secangkir teh hangat yang siap di meja. Ku tatap bintang-bintang indah diatas sana.
Tanganku beranjak meraih buku, tak lupa ku ambil sebuah pena milikku. Jari-jemariku mulai bergerak liar diatas putihnya kertas pada buku. Aku menulis cerita hari ini pada diary kesayanganku. Aku berfikir, apa yang aku alami saat ini tak bisa diulang kembali. Oleh karenanya, aku mencatat apa saja yang aku lakukan setiap hari, entah itu hal kecil ataupun besar.
Saat baris akhir, sebuah darah menetes pada buku. Aku meraba sekitar hidungku. Benar saja darah itu berasal dari sana. Kepala ku terangkat tangan kananku melepaskan pena dan beralih menyumbat hidungku. Aku masuk kedalam rumah lalu mencari dimana tissue berada. Perasaan ku lega tatkala darah sudah tak memancar lagi.
Tanganku mengepal, lalu membuang nafas berat. Kemudian, aku beralih membersihkan tissue yang berserakan. Tak sadar bulir air mataku jatuh merembes di pipi. Aku mengusapnya, tetapi tetap saja air mata itu turun lagi.
“Kaluna harus kuat. Ini memanglah sakit sekali, maka dari itu Kaluna harus bertahan.” Batinku.
***
Keesokan pagi harinya, aku bangun pukul 06.00. Melakukan pekerjaan rumah seperti biasa, kemudian menyiapkan makanan untuk nenek, dan Benn. Karena aku akan bekerja. Aku bekerja di toko bunga ibu Delissa, Tante Fani. Keluarga Delissa sangat baik kepada ku. Kadang aku merasa tidak enak hati, tetapi Tante Fani bilang, “Kamu sudah tante anggap anak sendiri. Jadi jangan sungkan.” Aku selalu bersyukur dikelilingi oleh orang-orang baik disekitarku.
Seperti biasa aku ke toko menggunakan sepeda. Jarak dari rumah memang cukup jauh, karena letak toko dekat dengan danau. Di desa ini terdapat dua danau yang selalu ramai oleh pengunjung. Selain karena pemandangan yang indah, disini juga sejuk dan asri.
Ketika tengah berjaga, ada seorang anak berusia sekitar 5 tahun datang bersama sang ayah. Samar-samar aku mendengar, “Lolita mau bunga yang mana, nak? Yang itu apa yang itu.” Tangannya sembari menunjuk bunga yang terpampang di depannya. Jujur aku merasa iri, karena selama ini aku belum pernah merasakan bermain hanya berdua dengan ayah.
Anak bernama Lolita itu menunjuk satu bunga, bunga yang cantik sepertinya. Ayahnya mengangguk lalu memgambilnya. Posisinya kini Lolita digendong, tangan kanan ayahnya membawa bunga tadi dan mereka tertawa singkat. Sungguh terlihat sangat bahagia bukan?
Aku memberikan struk ketika sudah selesai membayar. Tak lama kemudian, setelah mereka keluar dari toko, aku melihat sang ibu datang. Wah, benar-benar keluarga yang sangat harmonis. Tetapi senyumanku luntur tatkala wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya Lolita menoleh. Wajahnya seperti familiar.
Dahiku mengernyit bingung. Aku berbicara di dalam hati, “I-itu bunda kan? Aku nggak mungkin salah itu bunda.”
Tanpa memikirkan apapun, aku berlari keluar dari toko, menghampiri tempat dimana bunda berdiri bersama keluarga barunya. Langkahku terhenti, ketika jarak kami hanya tiga langkah. Air mataku mengalir lagi, mataku tak membendung cairan tersebut. Badanku lemas, tetapi aku berusaha sekuat mungkin melangkah lebih dekat dengan bunda.
“Kenapa, mbak?” Suaranya seperti bunda. Walau aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas, tetapi aku yakin itu adalah suara bunda.
Tanganku bergerak mengusap air mata yang jatuh. Dengan cepat aku meraih secarik kertas yang berada di saku bajuku. Tak lupa pena nya. Tanganku dengan lihai menulis apa yang ingin aku katakan, di kertas tersebut.
‘Bunda, apa kabar? Ini aku Kaluna anak bunda.'
Setelah membacanya, alih-alih tersenyum kepadaku. Ia justru marah dan bilang jika aku mengada-ngada.
“Kamu gausah ngaku-ngaku ya mbak. Saya gak punya anak selain anak kecil ini,” Ucapnya. Lalu ia menunjuk Lolita yang berada digendongan sang ayah.
Karena aku tak puas dengan jawabannya, aku menulis lagi apa yang ingin aku katakan kepadanya.
‘Bunda, ini aku Kaluna. Apa bunda lupa? Aku anak bunda yang bunda tinggalin dari umur empat tahun.’
“Kamu gila ya! Saya gak punya anak modelan kayak kamu. Pergi kamu jangan ganggu saya!” Kini nada bicaranya meninggi.
Aku memegang tangannya, berharap ia percaya bahwa aku anak kandungnya. Tapi semua itu sia-sia. Aku justru didorong sampai terjatuh olehnya. Air mataku mengalir semakin deras. Aku sedih, aku marah, semua campur aduk.
Tante Fani datang menghampiri ku, memegang kedua pundakku dan menenangkanku.
“Sudahlah nak, minum dulu.” Segelas air diberikan kepadaku. Kuminum air tersebut lalu kutulis sesuatu di kertas.
‘Itu beneran bunda, tante. Aku masih ingat sekali wajah bunda. Tapi kenapa sikapnya tadi seolah-olah ia tidak mengenalku? Apa mungkin seorang ibu lupa dengan anak kandungnya?’
“Jangan begitu nak, seorang ibu akan selalu ingat dan sayang kepada anaknya. Mungkin sekarang belum waktunya. Kamu sabar ya.”
“Sepertinya tante punya nomornya, coba kamu kirim pesan untuknya. Siapa tahu setelah itu, dia berubah dan tidak seperti tadi lagi.” Tutur tante Fani. Aku mengangguk mengerti.
Setelah sampai dirumah, aku segera menghubungi nomor yang diberikan tadi.
Message
‘Bunda, ini aku Kaluna.’
‘Kenapa menghubungi saya?
Saya sudah bilang kalau
saya tidak kenal kamu.’
‘Aku Kaluna Nareswara,
yang ibu tinggal dari umur
4 tahun.’
‘Saya gak kenal.’
‘Kaluna mau ketemu bunda.
Kaluna mau peluk bunda.’
‘Sudah saya bilang kamu bukan
anak saya!’
‘Kenapa bunda?
Kenapa bunda nggak
menganggap Kaluna?’
‘Kamu memang lahir dari rahim saya.
Tapi saya gak pernah menganggap
Kamu sebagai anak saya.
Kamu bisu Kaluna. Bunda malu!
Bunda malu punya anak bisu.’
Degg
Hati ku bagai ditusuk seribu jarum. Ternyata selama ini bunda malu atas kekurangan yang aku punya?
Ya Tuhan, kenapa ini sungguh menyakitkan. Air mataku sudah tidak dapat dibendung. Kepalaku sangat pusing, pandanganku buram, tak lama semua gelap. Aku pingsan.
Aku terbangun dibangunan yang serba putih. Nampaknya ini rumah sakit. Saat aku menengok nenek menangis disebelahku, dan juga Benn. Mereka terlihat khawatir terhadapku, tetapi aku mengisyaratkan jika aku baik-baik saja. Aku bercerita kepada nenek saat aku bertemu bunda kemarin. Semua aku ceritakan kepadanya.
Tak lama kemudian, Delissa dan keluarganya datang menjengukku. Mereka menanyakan keadanku. Aku gak bohong kalau kondisiku tidak baik-baik saja. Aku tidak kuat, ini terlalu sakit. Sepertinya waktuku tidak akan lama. Aku berpesan kepada tante Fani, ‘Jika aku sudah tiada tolong berikan surat ini kepada bunda.’
Hari itu, adalah hari terakhir dimana aku melihat orang-orang baik yang selalu bersamaku.
***
‘Sudut pandang Bunda Kaluna.’
Pemilik toko bunga tempat Kaluna bekerja menghubungiku terus menerus dan mengajak ku bertemu. Sepertinya memang penting, jadi aku menyetujuinya. Untung aku belum kembali ke Jakarta, jadi kita bertemu di cafe terdekat.
“Kenapa kamu ngajak ketemu, kamu pemilik toko bunga itu kan?” Aku bertanya kepadanya to the point
Ia menjawab, “Iya. Aku diberi amanat untuk memberikan surat ini kepadamu.”
Aku mengernyit bingung. Tetapi langsung kuterima saja karena aku juga penasaran.
From : Kaluna
To : Bunda
Halo bunda, bagaimana kabar bunda? Pasti sehat kan. Sebelumnya, Kaluna minta maaf kalau Kaluna terlahir tidak sempurna. Maaf kalau Kaluna bisu. Sebenarnya Kaluna juga mau bisa bicara layaknya orang normal bunda. Tapi Kaluna bisa apa, Kaluna hanya bisa bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan.
Oh iya, bunda sekarang punya keluarga baru kan? Alhamdulillah kalau begitu. Pasti bunda sangat bahagia. Bunda jangan lupa jenguk nenek ya. Nenek kangen sama bunda.
Maaf kalau Kaluna pengen sekali dipeluk bunda, karena Kaluna mau peluk bunda untuk terkahir kalinya, sebelum Kaluna gak ada. Kaluna mengidap leukimia stadium akhir dan waktu Kaluna sudah gak banyak lagi.
Segitu saja yang mau Kaluna tulis. Semoga bunda sehat selalu, dan bahagia selalu. Kaluna sayang banget sama bunda.
Apa ini, air mataku jatuh semakin deras ketika membacanya. “Ini semua bohong kan? Katakan! Dimana Kaluna sekarang?”
Orang didepanku hanya menggeleng dan menangis sama sepertiku, “Kaluna udah gak ada. Kaluna udah meninggal.”
“Gak mungkin! Kaluna masih hidup.”
“Kaluna udah meninggal, ikhlaskan saja. Salah kamu sendiri tidak mau mengakui anakmu, sekarang dia udah gak ada, kamu menyesal kan sekarang?” Kata dia, dan malah menyalahkanku.
Tetapi memang benar, ini semua salahku. Kaluna maafkan bunda, nak. Semoga kamu tenang disana.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar